0

Pinisi: Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Selatan

Pinisi Kebanggaan Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan kapal Pinisi? Kapal layar ini adalah kapal layar tradisional khas Indonesia. Dibuat oleh Suku Bugis dan Suku Makassar dari Desa Bira, kapal ini merupakan kebanggan masyarakat Sulawesi Selatan dan sudah tersohor namanya di penjuru tanah air. Bahkan dunia.

Pinisi sebenarnya adalah nama layar. Konon, nama Pinisi berasal dari seseorang yang bernama sama. Saat dia berlayar melewati pantai Bira, dia melihat rentetan kapal dan kemudian menegur salah seorang nakhoda kapal tersebut kalau layarnya perlu diperbaiki. Sejak saat itu, orang Bira kemudian terus memperbaiki layar kapal mereka hingga berbentuk seperti layar Pinisi yang sekarang ini.

Kapal ini umumnya memiliki dua buah tiang layar utama dan tujuh layar dengan tiga layar terletak di ujung depan, dua di depan dan dua di belakang. Hampir sama dengan lambang Garuda Pancasila, Kapal Pinisi memiliki filosofi sendiri dalam jumlah tiang dan layar yang digunakan. Dua berdasarkan dua kalimat syahadat dan tujuh merujuk kepada tujuh ayat dalam surat Al-Fatihah. Walau ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tujuh juga merupakan pernyataan bahwa bangsa Indonesia juga bisa mengarungi tujuh samudera besar di dunia.

Pinisi Kebanggaan Indonesia

Kapal yang menggunakan layar jenis sekunar ini diperkirakan sudah dipergunakan di Indonesia sejak tahun 1500-an. Menurut naskah lontarak I Babad Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat ketika Sawerigading yang merupakan putera mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju Tiongkok demi mempersunting Putri We Cudai.

Baca Juga:Sejarah Indonesia Kuno Negara Kaya di Dunia (Bagian 4)

Setelah berhasil memperistri sang putri, Sawerigading kembali ke tanah air dengan menggunakan kapalnya. Akan tetap saat masuk perairan Luwu, kapal ini diterjang badai dan terbelah menjadi tiga. Ketiga bagian ini diceritakan terdampar di Ara, Tanah Lemo, dan Bira. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit ketiga bagian kapal itu. Orang Ara membuat badan kapal, sementara di Tanah Lemo masyarakat merakitnya menjadi satu. Kemudian orang Bira menyelesaikannya dan memberinya ketujuh tiang.

Di masa kini, Pinisi yang dulunya lebih banyak berperan sebagai kapal barang ini kini menjadi kapal pesiar komersial maupun kapal ekspedisi yang dibiayai investor luar dan dalam negeri. Kapal Pinisi juga menjadi lambang gerakan World Wild Fund yang bertajuk #SOShark; sebuah gerakan yang merupakan upaya WWF untuk menyelamatkan spesies ikan hiu.

Dibaca 485 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>