0

15 Januari 1974 ‘Malari’ Sisi Gelap Sejarah Bangsa Indonesia

Hari ini 15 Januari 2013 tepat  empat puluh tahun terjadinya peristiwa yang dikenal dengan ‘Malari’ yang kala itu meneror Jakarta. Meskipun bukanlah peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia, Malari menjadi tragedi yang cukup menakutkan di masa itu. Tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, dan 775 orang ditahan. Sedangkan dari segi materi, sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak atau dibakar dan 160 kg emas raib di sejumlah toko perhiasan. Sayangnya, media massa saat itu hanya memberitakan fakta yang terlihat saja.

Kronologi peristiwa 15 Januari 1974 (Malari)

15 Januari 1974 ‘Malari’ Sisi Gelap Sejarah Bangsa Indonesia

Peristiwa ‘Malari’ terjadi pada 15 Januari 1974 ketika Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta dan mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di bandar udara Halim Perdanakusuma. Kondisi bandar udara Halim Perdanakusuma dijaga ketat dan mahasiswa tidak bisa menerobos masuk ke bandara. Tepat pukul delapan pagi Kakuei Tanaka tidak berngkat dengan mobil tetapi diantar oleh Presiden Soeharto menggunakan helikopter dari Gedung Bina Graha ke salah satu bandara di Jakarta kala itu.

Kedatangan Tanaka dianggap sebagai simbol modal asing yang harus dihancurkan menjadi momentum terjadinya peristiwa ini. aksi long march dari Salemba menuju Universitas Trisakti yang menjunjung tiga tuntutan yaitu pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi atas modal asing, dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden. Tidak hanya mahasiswa, ratusan ribu orang turun ke jalan yang akhirnya aksi demonstrasi ini berujung pada kerusuhan.

Menurut Hariman, aksi mahasiswa usai pukul 14.30. “Sedangkan kerusuhan terjadi satu jam kemudian,” katanya. Massa yang mengaku dari kalangan buruh itu menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka melakukan penjarahan serta membakar mobil buatan Jepang dan toko-toko. Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Jenderal Soemitro sempat menghadang massa di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Dia berusaha membelokkan gerakan massa yang mengarah ke Istana Presiden. “Ayo, ikut saya, kita jalan sama-sama ke Kebayoran!” teriaknya. “Maksud saya, mau membuat tujuan mereka menyimpang, supaya jangan sampai ke arah Monas….”

15 Januari 1974 ‘Malari’ Sisi Gelap Sejarah Bangsa Indonesia

Massa tak beranjak. Kepada Tempo beberapa tahun silam, Soemitro mengaku sudah menawarkan dialog antara Dewan Mahasiswa UI dan Tanaka. Tanaka sudah bersedia, tetapi DM-UI menjawab bahwa “dialog diganti dengan dialog jalanan….”

Tetapi Jakarta seperti sudah terlanjur ricuh. Hari itu belasan orang tewas, ratusan luka-luka, hampir seribu mobil dan motor dirusak dan dibakar, serta ratusan bangunan rusak. Ini masih ditambah 160 kilogram emas yang hilang dari sejumlah toko perhiasan. Saking rawannya, Soeharto mesti mengantar Tanaka menumpang helikopter ke Bandara Halim sebelum bertolak kembali ke negerinya.

Peristiwa yang dikenal sebagai Malari itu mengubah perjalanan Indonesia. Sebab, menurut sejarawan Asvi Warman Adam dalam sebuah artikelnya, setelah itu Soeharto melakukan represi secara sistematis. Sjahrir, yang ikut ditahan setelah peristiwa tersebut, menilai Malari adalah bentuk konsolidasi kekuatan Soeharto.

15 Januari 1974 ‘Malari’ Sisi Gelap Sejarah Bangsa Indonesia

Total aparat menggaruk 750 orang yang 50 di antaranya pemimpin mahasiswa dan cendekiawan, seperti Hariman Siregar, Sjahrir, Yap Thiam Hien, Mohtar Lubis, Rahman Tolleng, dan Aini Chalid. “Bayangkan, tanggal 11 Januari masih dipeluk-peluk Soeharto, tanggal 17 gue ditangkap,” Hariman mengenang. Pada 11 Januari, Soeharto memang menerima Hariman bersama tokoh mahasiswa lain di Bina Graha. Soeharto bermaksud meredam aksi mahasiswa. Para tokoh itu ditahan berdasar Undang-Undang Antisubversi. Sebagian dari mereka dibebaskan setahun setelah meringkuk di penjara, karena terbukti tak terlibat. Pengadilan berdasar UU Antisubversi itu menuai kecaman.

Sampai saat ini banyak perspektif tentang terjadinya peristiwa Malari. Seperti yang dikatakan William Frederick (2002) Kita hanya bisa sekedar melihat the shadow of an unseen hand (bayangan dari tangan yang tidak kelihatan). Sebagian sejarah Orde Baru–termasuk persitiwa Malari 1974–masih gelap (karena digelapkan). Semoga peristiwa seperti ini tidak akan terjadi lagi ya. Silakan berkomentar atau sekedar ingin berbagi informasi menarik seputar jelajah sejarah nusantara.

Dibaca 2084 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page
Tags:  

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>