0

Cokelat; dari Kakao sampai Kakawa

Cokelat; dari Kakao sampai Kakawa

Siapa yang tak suka makan cokelat? Tua muda, dewasa maupun anak-anak pasti menyukai cokelat. Penganan yang namanya sesuai dengan warnanya ini emang memiliki banyak penggemar di seluruh penjuru dunia. Tapi apa iya asal usul dan sejarahnya sudah diketahui banyak orang? Di sini akan dikupas sedikit seluk beluk soal cokelat.

Sejarah Awal Cokelat

Cokelat adalah sebutan produk olahan dari biji kakao atau Theobroma cacao. Diperkirakan tanaman ini mula-mula tumbuh di Amazon Utara sampai ke Amerika Tengah dan dikonsumsi pertama kali oleh masyarakat Mesoamerika. Residu cokelat yang ditemukan pada peralatan tembikar suku Maya kuno di Rio Azul, Guatemala, menujukkan bahwa masyarakat ini sudah mengolah biji kakao menjadi minuman dan mengkonsumsinya sekitar sejak tahun 400 SM sebagai perlambang kemakmuran.

Dari Kakao sampai Kakawa

Peradaban pertama di daerah Mesoamerika itu mengenal tanaman kakao dengan nama kakawa dan menyebutnya minuman cokelat dengan sebutan xocolātl. Menyajikannya pun tidak sembarangan. Seorang penyaji harus memegang wadah berisi minuman tersebut setinggi dada dan menuangkannya ke dalam wadah yang ada di tanah. Dengan demikian, dapat memicu lemak kokoa (cocoa butter) untuk membentuk busa yang melimpah. Minuman dengan rasa sangat pahit ini biasanya disajikan hangat dan tidak mengalami perubahan rasa ataupun resep hingga bangsa Aztec mengambil alih mayoritas daerah Mesoamerika.

Sama halnya dengan suku Maya; bangsa Aztec juga menganggap biji kakao sebagai barang mewah. Mereka mengasosiasikan biji kakao dengan Quetzalcoatl; entitas yang disingkirkan para dewa karena berbagi cokelat dengan manusia. Walau, berbeda dengan suku Maya, masyarakat Aztec lebih suka meminum cokelat mereka dalam keadaan dingin dan dibubuhi dengan rempah-rempah.

Baca Juga: Tiga Nyonya, Restoran yang Sarat Nilai Sejarah

Selain sebagai minuman, bangsa Aztec yang tak mampu menumbuhkan pohon kakao dikarenakan kondisi geografis, menerapkan biji kakao sebagai sistem untuk membayar pajak bagi mereka yang tinggal di daerah yang berada di bawah pemerintahan Aztec. Mereka juga menjadikan biji kakao sebagai mata uang dalam kegiatan berniaga sehari-hari mereka.

Cokelat di Eropa

Sampai dengan abad ke-16, tidak ada seorangpun di benua Eropa yang tahu akan keberadaan biji kakao ataupun minuman hasil olahannya ini. Christopher Columbus dan putranya Ferdinand pertama kali melihat biji kakao dalam misi amerika keempat Columbus pada 15 Agustus 1502 dan dengan segera ia membawa pulang. Di Spanyol, kakao tidak lantas menjadi terkenal sampai sekelompok biarawan Spanyol memperkenalkannya di hadapan dewan Spanyol.

Setelah penaklukan bangsa Aztec oleh Spanyol, kakao kemudian diimpor dan dengan cepat menjadi favorit kalangan atas. Penyajiannya masih dalam bentuk minuman, namun gula dan madu ditambahkan untuk mengurangi rasa pahit alami dari kakao. Dan berawal dari sini, cokelat dengan cepat menyebar ke seantero Eropa.

Cokelat Sekarang

Seiring dengan perkembangan zaman, proses pengolahan biji kakao mengalami banyak kemajuan. Penyajiannya pun makin beragam. Tidak hanya terbatas dalam bentuk minuman panas atau dingin dengan rasa yang agak pahit, kini cokelat bisa ditemui dalam berbagai bentuk baik itu cair, batang, pasta, ataupun bubuk. Penambahan rasa pun kini tak hanya terbatas pada rempah, madu, dan gula. Susu, selai buah, bahkan sampai potongan kue pun kini dicampurkan untuk menambah cita rasa cokelat.

Dari Kakao sampai Kakawa

Dibaca 410 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>